First love (part4)

on Senin, 01 April 2013
Pagi ini saya pergi ke sekolah bukan lagi ke warnet yang biasa menjadi ritual di tiga bulan yang lalu, kembali lagi seperti anak baru sekolah ini menjadi asing. Pelajar pertama saya sudah di panggil lagi oleh wali kelas saya, namanya bu nina, Bu Nina yang pertama kali bertanya di saat itu Bu Nina menanyaakan dengan lembut seakan tidak mau membuat saya menjadi anak yang putus asa apa lagi putus sekolah. Entah apa yang membuat saya enjoy untuk menceritakan semua dari awal kepada Bu Nina, tangisan penyesalan itu tidak bisa saya cegah untuk keluar. Semua kekesalan saya hilang Bu Nina menjadi pendengar yang baik beliau memberi arahan dan saran yang membuat  pemikiran saya berubah, *saya bukan anak kecil lagi yang harus di arahkan*.

Hari ini berbeda dengan tiga bulan yang lalu, penuh canda tawa, pokonya dulu itu saya senang sekolah mungkin ada motivasi yang membuat saya semangat sekolah tapi berbeda dengan hari ini tak ada seorang pun yang bertanya kepada saya dan di tambah dengan teman dekat saya Mabrur yang sekarang menjadi musuh saya karena berbagai macam hal seolah kami merasa benar, tidak mau mengakui kesalahan kami sendiri, kami saling menuduh siapa yang pertama kali mengajak bolos sekolah sehingga kami menjadi seperti orang asing. Semua masalah ini hampir membuat saya lupa dengan sesosok perempuan yang pernah ada di pikiran saya mungkin di hati saya ini, saya mencoba untuk melihatnya, mentap matanya yang indah. Seakan ini mimpi dia melihat saya dan kembali lagi seperti pertama kali dia melihat saya, dia tersenyum untuk sekian kalinya kepada saya, hal itu yang menjadi motivasi saya kembali dengan bermodal senyum yang indah itu sudah menjadi modal spirit saya di hari besok.

Hari semakin indah di kala saya semangat sekolah teman-teman saya kembali untuk memberikan hiburan di setiap harinya. Bertambahnya teman dekat saya bernama Arip, badan yang tinggi dan rambut keriting yang sering anak-anak lain menyebutnya embe, hahaha kalau ada anak-anak memanggil dia dengan panggilan embe serasa perut saya bergetar tak bisa saya menahan ketawa mendengarnya. Dan satu lagi Iwan teman baik Arip dia juga tinggi dan memiliki kumus yang tebal. Seolah alam yang menakdirkan hal ini, kami menjadi tiga orang sahabat yang tak pernah terpisahkan yang saling mensupport.

Apa kabar Wulan? perasaan ini berubah ketika Wulan menjauh dari saya dan di balas dengan perasaan saya yang seolah menghapus masa itu masa di mana perasaan saya suka kepada dia tapi saat ini perasaan itu hilang dan di tambah saya punya kenalan perempuan dan memiliki umur lebih tua dari saya namanya Dest.

Rasa itu hilang? "terlihat hilang tapi perasaan itu tidak hilang", rasa kesal yang dulu pernah saya rasakan di saat Wulan berpacaran dengan Dadang itu kembali. Mereka kembali melanjuti rasa cinta itu Wulan dan Dadang kembali berpacaran dan seolah tidak mau kalah saya memutuskan untuk pergi dengan Arip ke rumah perempuan yang saat ini sedang dekat dengan saya untuk mengatakan saya suka kepada dia, entah apa yang membuat saya berkata separti itu, cemburukah saya? mungkin itu yang saya rasakan.

Kondisi Kelas yang semakin panas bukan karena cuaca yang panas atau pun kebakaran tapi rasa cemburu yang tidak bisa tertahan, saat itu ketika saya sedang mengobrol dengan Arip dan Iwan bersamaan dengan Wulan sedang mengobrol santai dengan Dadang yang saat itu juga saya sangan kesal dan membalas dengan menelepon Dest yang saat itu kami sudah memiliki status berpacaran jalan satu bulan. Dengan suara sedikit berteriak saya melakuka percakapan dengan Dest di telepon yang membuat seisi kelas melihat saya bahkan Arip bertanya kepada saya, "lagi telepon sapa zul? meni berisik" dengan nada yang penasaran, "biasa pacar" saya menjawab dengan nada cool serasa orang ganteng paling gimana gitu.

Bulan demi bulan semakin berlalu tidak terasa ujian kenaikan kelas di depan mata, minggu depan ujian sekolah kami, saya, Arip, dan Iwan malah mengabaikannya seakan pasti naik kelas dengan gambangnya.

0 comments:

Posting Komentar